Blog teknik informatika 4D universitas islam majapahit
TEKNOLOGI OLED ~ Tech Inform 4D (Teknik Informatika Majapahit)

TEKNOLOGI OLED



MAKALAH INTERAKSI MANUSIA DENGAN KOMPUTER

TENTANG OLED

1. AINUR ROHHMAN : 5.15.04.11.0.129

2. ANITA PUSPITA :5.15.04.11.0.0

3. GILANG PANDU P :5.15.04.11.0.048

4. BAYU FIRMANSAH :5.15.04.11.0.029




BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menganai teknologi yang canggih pada saat ini tidak asing lagi untuk semua orang. Karena teknologi ini semakin berkembang sering perkembang zaman. Sehingga datangnya teknologi membantu pekerjaan manusia dan dapat menggunakan teknologi tersebut. Akan tetapi akan lebih baik apabila kita mengetahui dan mengerti asal mula teknologi tersebut. Tulisan ini membahas Teknologi OLED ditemukan oleh ilmuwan Perusahaan Eastman Kodak, Dr. Ching W. Tang pada tahun 1979. Riset di Indonesia mengenai teknologi ini dimulai pada tahun 2005. OLED diciptakan sebagai teknologi aternatif yang mampu mengungguli generasi tampilan layar sebelumnya, tampilan kristal cair (Liquid Crystal Display atau LCD). OLED terus dikembangkan dan diaplikasikan ke dalam peranti teknologi tampilan. Dan juga kekurangannya dalam tulisan ini telah dijelaskan perkembangan tekhnologi yang mendasari terciptanya perangkat teknologi ini. Dan berbagai materi yang singkat tetapi kaya akan informasi yang akan lebih baik apabila dibaca sendiri oleh para pembaca. Sekiranya tulisan ini dapat menjadi bahan penambah wawasan bagi para pembacanya. Supaya memanfaatkan tekhnologi sekarang dengan sebaik-baiknya, menghindari hal yang negatif.

2.1 Rumusan Masalah

1. Pengertian teknologi OLED

2. Bagian dari OLED

3. Jenis – jenis OLED

4. Cara pembuatan OLED

5. Kelebihan dan Kekurangan kehadiran teknologi OLED


3.1 Tujuan

1. Menjelaskan pengertian teknologi OLED

2. Mengetahui bagian dari OLED

3. Menganalisa jenis OLED

4. Menganalisa cara pembuatan OLED

5. Menjelaskan kelebihan dan Kekurangan kehadiran teknologi OLED


BAB II

PEMBAHASAN


Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan sirkuit elektroniknya adalah bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi.



2.1 Pengertian OLED

Teknologi OLED ditemukan oleh ilmuwan Perusahaan Eastman Kodak, Dr. Ching W. Tang pada tahun 1979. Riset di Indonesia mengenai teknologi ini dimulai pada tahun 2005. OLED diciptakan sebagai teknologi aternatif yang mampu mengungguli generasi tampilan layar sebelumnya, tampilan kristal cair (Liquid Crystal Display atau LCD). OLED terus dikembangkan dan diaplikasikan ke dalam peranti teknologi tampilan. Oled (Organic- Light Emitting Diode) adalah sebuah komponen semikonduktor yang solid seperti halnya komponen LED (Light Emitting Diode) yang dibuat dengan menyisipkan beberapa lembar lapisan tipis organik diantara dua konduktor. Jika di aliri arus maka OLED akan menyala. OLED tidak membutuhkan sumber cahaya lain seperti halnya LCD yang membutuhkan backlight sebagai sumber cahayanya. Ukuran OLED sangat kecil sekitar 100 - 500 nanometer atau kira-kira 200 kali lebih kecil dari rambut anda.




Layar OLED yang bisa di gulung

(courtesy of LG)



2.2 Bagian dari OLED

Bagian-bagian OLED.

Sebuah OLED memiliki beberapa lapisan. Ada yang memiliki 2 atau 3 lapisan organik.
Berikut laipsan-lapisan yang membangun sebuah OLED.
Substrate.
Ini adalah lapisan dasar OLED yang terbuat dari kaca atau plastik bening atau foil.
- Lapisan Anoda.
Lapisan ini akan melepaskan elektron jika dilewati arus listrik.
- Lapisan Konduktif.
Ini adalah lapisan organik pertama yang terbuat dari molekul plastik organik. Lapisan ini berfungsi memindahkan “lobang elektron” dari lapisan anoda. Lapisan polymer konduktif yang digunakan pada lapisan ini adalah polyaniline.
- Lapisan Emisif (Emissive Layer).
Ini adalah lapisan organik ke dua yang terbuat dari molekul plastik organik, namun
berbeda jenisnya dari molekul plastik organik yang digunakan pada lapisan konduktif. Lapisan ini berfungsi memindahkan elektron dari lapisan katoda. Di sini cahaya OLED di hasilkan. Lapisan polymer yang digunakan pada lapisan emisif ini adalah polyfluorene.
- Lapisan Katoda.
Lapisan ini bisa transparan bisa juga tidak tergantung pada jenis OLED yang akan di buat. Lapisan katoda ini akan menyuntikkan elektron-elektron saat OLED dilewati arus listrik.

Berikut ilustrasi lapisan-lapisan material sebuah OLED.


Ilustrasi struktur komponen OLED
(courtesy of www.howstuffworks.com)


Komponen-komponen OLED di atas adalah contoh untuk OLED dengan dua lapisan organik. Perlu diketahui juga OLED ada yang terdiri dari 3 lapisan organik.



2.3 Jenis-jenis OLED.
Ada beberapa jenis OLED.
Berdasarkan kontrol elektroniknya OLED dibagi 2, yaitu:
- PMOLED – Passive Matrix OLED

PMOLED merupakan jenis OLED yang menggunakan control skema sederhana, yang dimana pengguna dapat mengontrol setiap baris pada layar secara berurutan. PMOLED tidak mengandung kapasitor penyimpanan dan pixel di setiap baris. Untuk mendapatkan cahaya yang lebih terang PMOLED membutuhkan daya yang lebih besar jadi PMOLED sangat mudah dibuat dan harga yang relative murah tetapi masa pakainya sangat rendah. Tampilan juga ibatasi oleh resolusi dan biasanya tampilan sangat kecil yang hanya dapat menampilkan icon.
- AMOLED – Active Matrix OLED

Merupakan teknologi layer OLED. OLED merupakan perangkat padat yang terdiri dari film-film tipis. Film-film tersebut mengandung organic yang dapat menghasilkan cahaya apabila dialiri listrik. Serta, digunakan sebagai layer dalam suatu perangkat dengan tingkat ketajaman yang lebih tinggi, serta konsumsi daya yang relative rendah.
Berdasarkan fungsinya OLED dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Transparent OLED
- Top Emitting OLED
- Foldable OLED
- White OLED
2.4 Teknologi pembuatan OLED

Bagian terpenting dalam pembuatan OLED ini adalah memasang lapisan-lapisan organik pada lapisan substrate nya. Hal ini bisa dilakukan dengan 3 cara.

1. Metode Vacuum Deposition atau Vacuum Thermal Evaporation (VTE).
Di dalam ruang hampa, molekul organik dipanaskan dengan hati-hati supaya menguap dan dibiarkan mengembun sehingga membentuk lapisan film tipis di atas lapisan substrat yang didinginkan. Poses ini dianggap mahal dan kurang efisien.

2. Metode Organic Vapor Phase deposition (OVPD).
Pada metode ini menggunakan gas pembawa (carrier gas) untuk memindahkan uap molekul organik kepada lapisan substrate yang didinginkan, di mana molekul organik ini di embunkan membentuk lapisan film tipis. Proses ini dilakukan pada ruang reaktor panas bersekat dengan tekanan rendah.
Metode menggunakan gas pembawa ini dianggap meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya penbuatan OLED.

3. Metode Inkjet Printing.
Metode ini seperti menggunakan printer inkjet, OLED disemprotkan ke atas substrat seperti halnya tinta yang disemprotkan ke kertas. Teknologi inkjet sangat mengurangi biaya pembuatan OLED dan juga memungkinkan OLEDs dicetak ke lapisan film yang sangat besar untuk membuat layar tampilan yang besar seperti layar TV 80 inci atau billboard elektronik.

2.4 Cara keja OLED
Cara kerja OLED dalam memancarkan cahaya.OLED memancarkan cahaya sama seperti komponen LED, dengan proses yang dinamakan electrophosphorescence.
Prosesny seperti gambar berikut:


Ilustrasi cara kerja OLED dalam memancarkan cahaya
(courtesy of www.howstuffworks.com)

Arus listrik mengalir dari lapisan katoda menuju lapisan anoda melalui lapisan molekul organik. Lapisan Katoda memberikan elektron kepada lapisan organik emissive.
Kemudian lapisan Anoda membuang elektron dari lapisan organik konduktif. (dengan kata lain hal ini sama saja dengan memberikan “lubang elektron” ke pada lapisan organik konduktif.
Ketika berada di batas antara lapisan emissif dan konduktif, elektron-elektron menemukan “lubang elektron”. Kemudian elektron-elektron pun mengisi lubang elektron tersebut sambil mengeluarkan energi dalam bentuk photon cahaya. Dan OLED pun memancarkan cahaya.

Note:

• Warna cahaya yang dipancarkan tergantung jenis molekul organik yang digunakan pada lapisan emisif. Produsen menggunakan beberapa jenis lapisan organik pada sebuah OLED.

• Kecerahan cahaya (Brightness) OLED ditentukan oleh tinggi rendahnya arus listrik yang diterima. Semakin banyak arus listrik, akan semakin cerah cahaya OLED.

2.5 Kelebihan dan Kekurangan kehadiran teknologi OLED

Kelebihan

Kehadiran teknologi OLED dengan proses pembuatannya yang unik menggeser posisi teknologi LCD.
Tampilan OLED baru dan menarik. Layar terbuat dari gabungan warna dalam kaca transparan sangat tipis sehingga ringan dan fleksibel.
Kemampuan OLED untuk beroperasi sebagai sumber cahaya yang menghasilkan cahaya putih terang saat dihubungkan dengan sumber listrik.
Konsumsi daya listrik yang rendah dan terbuat dari bahan organik menjadikan OLED sebagai teknologi ramah lingkungan.
Biaya operasional yang relatif rendah dan proses perakitan yang relatif sederhana dibandingkan LCD. OLED dapat dicetak ke atas substrat yang sesuai dengan menggunakan teknologi pencetak tinta semprot (inkjet printer).
Memiliki jangkauan wilayah warna, tingkat terang, dan tampilan sudut pandang yang sangat luas. Piksel OLED memancarkan cahaya secara langsung sedangkan LCD menggunakan teknologi cahaya belakang (backlight) sehingga tidak memancarkan warna yang sebenarnya.
OLED memiliki waktu reaksi yang lebih cepat. Layar LCD memiliki waktu reaksi 8-12 milisekon, sedangkan OLED hanya kurang dari 0.01 ms.
OLED dapat dioperasikan dalam batasan suhu yang lebih lebar.

Kekurangan

Teknologi OLED di Indonesia pada umumnya masih terbatasi oleh beberapa faktor sehingga harus dikembangkan lebih lanjut.
Masalah teknis OLED yaitu masa bertahan bahan organik yang terbatas, sekitar 14.000 jam dibandingkan layar datar lain yang bisa mencapai 60.000 jam atau bahkan 100.000 jam. Pada tahun 2007, masa bertahan OLED dikembangkan menjadi 198.000 jam.
Kelembaban dapat memperpendek umur OLED. Bahan kandungan organik di dalam OLED dapat rusak jika terkena air.
Pengembangan proses segel (improved sealing process) dalam praktik pembuatan OLED dapat membatasi masa bertahan tampilan.
Dalam peranti OLED multi-warna yang ada sekarang, intensitas cahaya yang dihasilkan untuk warna tertentu belum cukup terang.

Harga produk yang cenderung mahal sehingga masih belum terjangkau oleh kalangan umum.

Analisis

Makalah kami berjudul OLED ini menjelaskan tentang teknologi layar masa kini. OLED banyak mengusung komponen yang sederhana, hal ini disimpulkan sendiri oleh kami yang berkesempatan meneliti lebih dalam makalah ini.

Makalah ini berhubungan dengan nilai konsumtif terhadap teknologi LED, yang dimana masyarakat di Indonesia sangat bergantung terhadap teknologi ini. Kami melihat banyak sekali produk elektronik di Indonesia menggunakan teknologi LED, seperti Televisi dan smartphone. Setelah menganalisa lebih dalam teknologi LED disegani oleh perusahaan elektronik Karena disamping tingkat daya yamg rendah atau hemat daya dan jangka pemakaian yang lama.

Jenis LED yang sering kita jumpai yaitu jenis OLED yang dimana OLED ini sangat banyak bahkan sering digunakan pada setiap produk. Pengembangan OLED mengarah pada power dan efisiensi yang lebih tinggi pada beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2010 di Indonesia sendiri OLED dikembangkan oleh perusahaan LG dengan mengadopsinya kepada smartphone buatannya. Prototype produk tersebut menggunakan OLED Karena LG ingin membuat sebuah produk smartphone yang fleksibel dimana pada bagian layer dapat ditekuk. Selain sebagai penunjang produk pemakaian OLED ini juga untuk menarik minat masyarakat kepada produk. Masyarakat lebih menyukai desain yang tidak umum atau aneh dikarenakan persaingan produk dari berbagai merek smartphone hanya berdesain kotak biasa. Pengenalan produk OLED kepada masyarakat dilakukan pada ajang IT Expo yang odimana banyak perusahaan besar yang bergabung didalamnya.

Alasan pengembangan OLED menurut Pratmono Adiyasa (2011) berhubungan dengan penghematan listrik besar-besaran yang ada di Indonesia teknologi ini sangat cocok. Disamping memiliki daya yang rendah jangka pemakaian yang tinggi disamping itu sangat baik terhadap kelangsungan hidup lingkungan, Karena pembuatan OLED berbahan organic yang sangat ramah lingkungan. Teknologi yang dibutuhkan negara kita saat ini :

1. Efisiensi

Teknologi seharusnya memiliki jangka pemakaian yang sangat baik ayang dimana teknologi tersebut dapat digunakan sepenuhnya tanpa ada bagian yang terbuang yang akan memperburuk masa pakai teknologi tersebut

2. Tepat Guna

Teknologi harus melihat kondisi, kebtuhan, keinginan masyarakat luas dimana teknologi tersebut harus berguna dan tidak menjadi sebuah teknologi yang sudah ada dan menambah jumlah teknologi sama yang mengakibatkan berkurangnya nilai teknologi tersebut

3. Menunjang Kelestarian Lingkungan

Teknologi harus menunnjang semua kehidupan makhluk di bumi. Terutama di Indonesia yang memiliki banyak lingkungan yang masih lestari contohnya hutan, laut, danau, dll.

Keuntungan OLED pada pemerintah Indonesia disamping banyaknya nilai konsumtif terhadap teknologi ini menambah penghasilan yang berupa pajak dari setiap perusahaan yang memproduksi teknologi ini. Pemasukkan itu ditunjang Karena produk yang dijual akan dikenakan pajak sebesar 10% dari harga produk.


BAB III

PENUTUP



3.1 KESIMPULAN

Teknologi OLED dikembangkan untuk memperoleh tampilan yang luas, fleksibel, murah dan dapat digunakan sebagai layar yang efisien untuk berbagai keperluan layar tampilan. Kehadiran teknologi OLED dengan proses pembuatannya yang unik memiliki berbagai kelebihan, di antaranya adalah tampilan OLED baru dan menarik sebab layar terbuat dari gabungan warna dalam kaca transparan sangat tipis sehingga ringan dan fleksibel, kemampuan OLED untuk beroperasi sebagai sumber cahaya yang menghasilkan cahaya putih terang saat dihubungkan dengan sumber listrik, serta konsumsi daya listrik yang rendah dan terbuat dari bahan organik menjadikan OLED sebagai teknologi ramah lingkungan.sebenarnya OLED-lah yang merupakan satu teknologi yang betul-betul baru pada teknologi layar besar. Panelnya diciptakan melalui jutaan LED kecil. Huruf O berarti organic” yang artinya terdapat carbon dapat setiap molekul yang diciptakan saat keluarnya cahaya (light producing) pada setiap layer dalam panel tersebut. OLED berlayar besar tidak membutuhkan lampu — molekulnya dapat menerangi dirinya sendiri–. OLED HDTV dapat lebih tipis dan lebih cemerlang dibandingkan LED TV yang tertipis yang ada dipasaran saat ini, dan memiliki beberapa keuntungan dibandingkan LCD TV, baik LCD yang dibekali dengan LED maupun CCFL.

3.2 SARAN

Agar mengerti perkembangan teknologi dan semua peralatan pada elektronika di era sekarang terutama pada bidang televisi serta mengetahui betul tentang dampak-dampak poditif dan negatifnya dari televisi, agar semua siswa bisa membedakan baik dan buruknya dari sebuah televisi. Serta dapat mengetahui cara-cara pembuatan pada televisi, agar dikemudian hari para pelajar bisa mempraktekkannya untuk membuat rancangan sendiri dalam pembuatan televisi.



DAFTAR PUSTAKA

http://teknologi.metrotvnews.com/read/2015/05/20/127733/lg-pamerkan-tv-oled-super-tipis

http://id.wikipedia.org/wiki/OLED

http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronika

Shinar, Joseph (Eds.), Organic Light-Emitting Devices: A Survey, NY: Springer- Verlag, 2004.

Nalwa, Hari Singh (Eds.), Handbook of Luminescence, Display Materials and Devices, vol. 1 : Organic Light-Emitting Diodes, American Scientific Publishers, Los Angeles 2003.

Brauman, J.I. & Szuromi, P, Science, vol. 273, 16 Agustus 1996, hal. 878.

R. H. Friend, R. W. Gymer, A. B. Holmes, J. H. Burroughes, R. N. Marks, C. Taliani, D. D. C. Bradley, D. A. Dos Santos, J. L. Bredas, M. Logdlund, W. R. Salaneck, Electroluminescence in Conjugated Polymers, Nature 1999, hal. 121, 397.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

tulisan mengikuti

lagu

Wavy Tail
Powered by Blogger.